Sabtu, 06 April 2013



UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
LABORATORIUM TEKNOLOGI BENIH
LAPORAN PRAKTIKUM
NAMA                                               :  
NIM                                                  
GOL/KELOMPOK                        
ANGGOTA                                       :
JUDUL ACARA                              :  FAKTOR-FAKTOR YANG
BERPENGARUH TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH
TANGGAL PRAKTIKUM            : 21 MARET 2013
TANGGAL PENYERAHAN         : 5 APRIL 2013
ASISTEN                                           : 1. AKHMAD TAUFIQUL HAFIZH
                                                              2. LARAS SEKAR ARUM
                                                              3. MANUEL EDISON ANO
                                                              4. RAAF LUQMAN SYAH
                                                              5. DIYAH AYU SETYORINI
                                                              6. NOVITA FRIDA SAFATA
                                                              7. OKTAVIA RIZKI SETIYA R.
                                                              8. MOCH. GUFRON ARIF R.
                                                              9. ALMANSYAH NUR SINATRYA


BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Indonesia merupakan negara dengan lahan pertanian yang luas, sehingga banyak komoditas pertanian yang dihasilkan. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk hasil pertanian tersebut, maka harus menggunakan teknologi-teknologi yang sesuai sehingga dapat menghasilkan bibit tanaman yang baik.  Dengan bibit tanaman yang baik maka tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, jika faktor-faktor yang lain terpenuhi. Untuk memperoleh bibit tanaman yang baik maka benih yang digunakan dalam proses perkecambahan harus baik.

Perkecambahan adalah tahap awal perkembangan tumbuhan yang merupakan tumbuhan berbiji. Pada tahap ini embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan biji tersebut berkembang menjadi tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah. Para ahli fisiologis benih menyatakan bahwa perkecambahan adalah munculnya radikel menembus kulit benih. Para agronomis menyatakan bahwa perkecambahan adalah muncul dan berkembangnya struktur penting embrio dari dalam benih dan menunjukkan kemampuannya untuk menghasilkan kecambah normal pada kondisi lingkungan yang optimum.

Perkecambahan adalah proses awal pertumbuhan embrio dari benih yang dorman, hal tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk faktor lingkungan. Faktor lingungan yang sangat berpengaruh terhadap perkecambahan adalah cahaya yang sangat penting dalam proses perkecambahan. Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji menyerap air dari lingkungan sekelilingnya yaitu pada tempat perckecambahannya, air yang diserap oleh biji berbentuk embun atau uap air. Efek yang terjadi adalah membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar dan biji melunak. Melihat pada keberadaan kotiledon atau organ penyimpanan, perkecambahan dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu perkecambahan epigeal dan perkecambahan hypogeal.

Faktor yang mempengaruhi perkecambahan dapat berupa faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu persediaan cadangan makanan dan kandungan hormon dalam biji, yang dikontrol oleh genetik tanaman menentukan mudah-tidaknya atau cepat-lambatnya perkecambahan. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkecambahan antara lain temperatur, kelembapan, air, hormon, dan sinar matahari. Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu dengan intensitas (kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan fotoperiodisitas (panjang hari).

Dalam praktikum ini digunakan biji pepaya sebagai bahan praktikum karena sebagian besar papaya diperbanyak dengan pembenihan. Selaian itu buah pepaya mempunyai banyak biji, pada biji pepaya terdpat membran pembungkus biji yang disebut dengan aril. Untuk menguji perkecambahan benih pepaya digunakan berbagai teknik, yaitu salah satunya dengan menghilangkan aril pada biji pepaya. Untuk mendapatkan benih pepaya yang baik cara memotong buah pepaya yaitu pada pangkal buah dan pucuk buah, sehingga didaptkan bagian tengah buah yang berisi biji yang berkualitas.

1.2 Tujuan

Dapat mengetahui dan mempelajari hambatan perkecambahan benih akibat dormansi fisiologis, serta dapat mengetahui dan membandingkan beberapa cara pematahan dormansi.




BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Buah pepaya adalah buah khas yang ada pada negara-negara tropis, buah ini hanya dapat ditemui pada daerah tropis dengan curah hujan yang sedang sampai tinggi. Menurut Panggabean (2009), Fenomena yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir adalah adanya permintaan buah-buahan tropis oleh beberapa negara di dunia yang cenderung mengalami peningkatan. Agar dapat memenuhi permintaan terhadap buah pepaya maka harus dilakukan perbanyakan tanaman pepaya, cara memperbanyak tanaman pepaya salah satunya yaitu dengan mengecambahkan bijinya sehingga dapat menjadi bibit pepaya yang unggul. Untuk mengecambahkan benih pepaya diperlukan teknik-teknik yang  dapat mempercepat proses perkecambahannya, oleh karena itu dalam praktikum ini akan dilakukan pengujian perkecambahan benih pepaya.

Menurut Suyatno Risza (1994), Pembuahan terjadi setelah adanya proses penyerbukan, bakal buah tumbuh menjadi buah dan bakal biji tumbuh menjadi biji. Biji inilah yang merupakan alat perkembangbiakan karena biji mengandung lembaga (calon tumbuh baru). Biji pada tanaman dapat menjadi lembaga jika biji dapat dikecambahkan sehingga menjadi bibit tanaman. Dalam pengecambahan benih diperlukan teknik-teknik khusus agar benih dapat berkecambah dengan normal. Untuk itu dalam praktikum ini dilakukan pengujian terhadap benih pepaya, agar dapat diketahui cara-cara yang terbaik untuk mengecambahkan benih pepaya agar berkecambah dengan normal.

Menurut Hasanah (2009), Struktur tanah merupakan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan produksi tanaman. Ukuran agregat tanah merupakan salah satu bagian dari struktur tanah yang sangat menentukan tata air maupun udara tanah. Dalam pengecambahan benih diperlukan media pengecambahan yang             udara dan air dapat tercukupi, sehingga benih dapat berkecambah dengan normal. Untuk mengecambahkan benih struktur tanah yang digunakan harus memiliki ruang pori mikro dan ruang pori makro, serta media yang digunkan harus selalu dalam keadaan lembap.

Perkecambahan pada benih pepaya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor dalam dan faktor luar. Faktor dalam yaitu faktor pengecambahan benih pepaya yang berasal dari dalam benih seperti adanya hormon-hormon dan enzim-enzim pertumbuhan yang merangsang untuk benih berkecambah. Faktor luar adalah faktor yang sangat berpengaruh terhadap perkecambahn benih yang menentukan benih dapat berkecambah atau tidak, yang termasuk faktor luar yaitu cahaya, suhu, kelembaban, dll. Perkecambahan benih dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti mutu benih, perlakuan awal (pematahan dormansi), dan kondisi perkecambahan (air, suhu, media, cahaya) (Schmidt dalam Sudrajat dan Megawati (2010).

Menurut Harijanto dan Rakhmania (2008), perkecambahan merupakan salah satu proses saat biji tumbuh dan berkembang. Agar biji dapat tumbuh dan berkembang maka biji harus dikecambahkan terlebih dahulu. Agar sel dapat berkecambah maka didalam sel benih harus terdapat cairan sel. Sel-sel benih mengandung cairan sel dengan nilai osmosis tertentu, cairan sel didalam sel benih merupakan tempat enzim-enzim bereaksi termasuk enzim pengecambah. Jadi agar benih dapat berkecambah maka benih harus dalam keadaan lembap, hal tersebut bertujuan untuk mengaktifkan enzim-enzim yang ada dalam benih.






BAB 3. METODOLOGI

3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum pembiakan tanama 1 dengan judul acara “Faktor-Faktor yang Berpengaruh Terhadap Perkecambahan Benih” yang dilaksanakan  pada hari kamis tanggal 21 Maret 2013 pukul 14.00-16.00 WIB, praktikum dilaksanakan Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jember.

3.2 Bahan dan Alat

3.2.1 Bahan

1.      Buah pepaya yang telah masak

2.      Abu dapur

3.      Subrat kertas merang

4.      Kapas gulung 

5.      Kertas karbon  3 lembar

3.2.2 Alat

1.      Alat pengecambah

2.      Pinset

3.      Cawan petri

3.3 Cara Kerja

1.      Mempersiapkan buah pepaya yang telah matang kemudian mengambil benih dari bagian tengan buah pepaya (lebih kurang ⅓ bagian).

2.      Membuang air dari benih pepaya dengan abu dapur, kemudian mencuci bersih dan meniriskannya.

3.      Membuat perlakuan terhadap benih pepaya sebagai berikut yaitu:

a.      Tidak mengupas kulit (endotesta) benih.

b.      Mengupas sebagian kulit benih.

c.      Mengupas seluruh kulit benih.

Setelah itu mengering anginkan benih sampai kering atau menjemurnya dengan sinar matahari selama 1 hari, kemudian mengecambahkan pada kondisi terang dan gelap.

4.      Membuat media perkecambahan substrat kertas merang dan melapisinya dengan kapas dalam cawan petri sebanyak enam kombinasi perlakuan dalam dua ulangan.

5.      Menanam benih pepaya sesuai dengan perlakuan dalam substrat yang telah basah dengan air, menanam pada setiap substrat masing-masing sebanyak 25 butir.

6.      Melakukan pengecambahan benih dengan kondisi gelap dan terang. Untuk kondisi gelap cawan petri ditutup kertas karbon hitam, sedangkan kondisi terang pertridis tanpa tutup, kemudian meletakkan masing-masing perlakuan pada alat pengecambahan.

7.      Menjaga kelembapan substrat perkecambahan dengan memberikan air secukupnya. 






BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Tabel hasil pengamatan benih pepaya

Perlakuan
Ulang-an
Perkecambaha
Kulit benih pepaya
Kondisi perkecam-bahan
Hari ke-8
Hari ke-14
Normal
Abnor-mal
Mati
Normal
Abnor-mal
Mati
Benih tidak dikupas
Terang
1
2
-
-
-
0%
0%
100%
Gelap
1
2
-
-
-
0%
0%
100%
Benih kulitnya dikupas sebagian
Terang
1
2
-
-
-
0%
0%
100%
Gelap
1
2
-
-
-
10%
10%
80%
Kulit benih seluruhnya dikupas
Terang
1
2
-
-
-
0%
0%
100%
Gelap
1
2
-
-
-
40%
0%
60%



4.1.2 Grafik Perkecambahan Benih Pepaya

a. Perkecambahan Benih Pepaya Yang Kulitnya Tidak Dikupas

 

 
b. Perkecambahan Benih Pepaya Yang Kulitnya Dikupas Sebagian

 


c. Perkecambahan Benih Pepaya Yang Kulitnya Tidak Dikupas

 

 
4.2 Pembahasan

Dari hasil praktikum perkecambahan benih pepaya yang dikecambahkan pada perlakuan kondisi gelap yaitu membungkus cawan petri dengan kertas karbon didapatkan hasil pada hari ke-14 yaitu rata-rata benih yang dapat berkecambah 20%, sedangkan pada kondisi terang atau tidak ditutup dengan kertas karbon hasil yang didapat yaitu rata-rata benih pepaya yang mati 100%. Jadi dari hasil tersebut terlihat bahwa faktor cahaya sangat berpengaruh terhadap perkecambahan benih pepaya. Cahaya dapat menghambat perkecambahan benih pepaya, hal tersebut terlihat pada benih pepaya yang dikecambahkan dalam konisi terang  maka benih tidak dapat berkecambah 100%.

Pada perlakuan biji pepaya yang seluruh kulitnya dikupas menunjukkan hasil perkecambahan yang lebih baik jika dibandingkan dengan benih pepaya yang kulitnya dikupas sebagian dan tidak di kupas. Pada benih pepaya yang seluruh kulitnya dikupas menghasilkan daya perkecambahan benih pada hari ke-14 yaitu 40%, sedangkan pada benih pepaya yang sebagian kulitnya dikupas menghasilkan daya perkecambahan benih 10%. Pada benih pepaya yang kulitnya tidak dikupas 100% benih tidak dapat berkecambah atau daya perkecambahannya 0%. Jadi kulit (aril) benih pada pepaya merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi perkecambahan benih pepaya, sehingga dapat disimpulkan bahwa kulit benih dapat menghambat perkecambahan benih pepaya.

            Faktor-faktor yang dapat mepengaruhi perkecambahan benih pepaya yaitu faktor dari dalam benih dan faktor dari luar benih. Faktor dari dalam benih yaitu persediaan cadangan makanan dan kandungan hormon dalam benih pepaya yang menentukan cepat atau lamabatnya proses perkecambahan. Faktor dari luar yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih pepaya yaitu temperatur udara, kelembapan, air, dan cahaya. Dalam proses perkecambahan yang paling banyak berpengaruh yaitu faktor cahaya dan hormon, meskipun faktor yang lain ikut berpengaruh. Perkecambahan pada benih pepaya dipengaruhi oleh hormon auxin, jika melakukan perkecambahan di tempat yang gelap maka perkecambahan lebih cepat, hal itu disebabkan karena hormon auxin sangat peka terhadap cahaya.

Faktor yang dapat menyebabkan biji papaya tidak berkecambah adalah adanya aril, aril merupakan lapisan kulit biji papaya yang berupa zat berwarna keputihan lunak dan agak kering. Aril mengandung protein kasar, serat kasar dan abu yang dapat berpengaruh negatif terhadap perkecambahan biji, jika aril tidak dibuang maka kulit tersebut bersifat impermeable terhadap air atau udara padahal air atau udara tersebut dibutuhkan untuk perkecambahan. Faktor suhu dan cahaya juga mempengaruh perkecambahan biji papaya pada perlakuan biji yang diletakkan di tempat yang gelap biji lebih banyak yang terkontaminasi dan dinyatakan abnormal karena biji terkontaminasi oleh jamur, selain itu pada saat kegiatan praktikum media yang digunakan yaitu substrat kertas merang kurang terjaga kelembapannya sehingga perkecambahan tidak dapat tumbuh sesuai dengan fase yang seharusnya terjadi.

Pengaruh cahaya pada proses perkecambahan sebenarnya bukanlah masalah yang sangat penting karena pada proses perkecambahan faktor lingkungan yang berpengaruh adalah air, suhu, dan kadar oksigen. Cahaya hanyalah digunakan untuk menaikkan suhu bila diperlukan pada saat berkecambah dan kebutuhan tersebut tidak terus-menerus terjadi, faktor airlah yanh sesungguhnya berpengaruh terhadap perkecambahan benih papaya karena air berfungsi untuk melunakkan kulit benih, pertukaran gas, mengencerkan protoplasma, dan mentranslokasikan cadangan makanan. Hasil percobaan terlihat pada perlakuan kulit yang dikupas sebagian pada tempat terang biji yang tumbuh berjumlah 2 biji dan pada tempat gelap berjumlah 3 biji, hal ini membuktikan bahwa seseungguhnya cahaya bukanlah faktor yang begitu penting daripada air.

            Dari hasil praktikum tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih pepaya, perlakuan yang terbaik untuk mengecambahkan benih pepaya yaitu dengan mengupas seluruh kulit benih kemudian benih dikecambahkan pada kondisi yang gelap. Perlakuan tersebut merupakan pelakuan yang terbaik karena pada benih pepaya terdapat kulit benih yang disebut dengan aril, jika aril tidak dibuang maka dapat menghambat perkecambahan benih pepaya karena aril benih mengandung protein kasar, serat kasar, dan abu yang berpengaruh negatif terhadap perkecambahan benih. Dalam keaadaan gelap benih pepaya dapat berkecambah dengan baik, hal tersebut disebabkan karena benih hormon auksin tidak dapat bereaksi dengan optimal jika dalam keaadaan terang.








BAB 5. PENUTUP



5.1 Kesimpulan

            Dari hasil praktikum tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih papaya. Pada perlakuan dengan benih yang dikecambahkan dalam kondisi gelap dan kulit benih (aril) yang dikupas menghasilkan perkecambahan noral 40%, sehingga dapat disimpulkan bahwa keadaan kulit benih (aril) dan cahaya dapat menjadi penentu proses keberhasilan dalam perkecambahan benih pepaya.

5.2 Saran

            Sebaiknya untuk menjaga benih perawatan media dilakukan agar media tetap lembab dan dapat menunjang tumbuhnya akar, sehingga presentase kegagalan perkecambahan tidak terlalu tinggi.






DAFTAR PUSTAKA

Hariyanto, Hari dan Nisa Rakhmania. 2008. Memperbanyak Tanaman Hias

Vaforit. Jakarta: Penebar Swadaya.

Hasanah, Uswah .2009. Respon Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill)

Pada Awal  Pertumbuhan Terhada Keragaman Ukuran Agregat Entisol. Agroland, 16(2): 103 – 109.

Panggabean, Ellen L. 2009. Kajian Fisiologi dan Kimiawi Deteriosasi Benih

Nangka Pada Penyimpanan Dengan Polyethilene Glycol. Eksakta - Biagrotek, 1(1): 12-18.

Risza, Suyatno. 1994. Seri Budidaya Kelapa Sawit. Yogyakarta: Kanisius.

Sudrajat, Dede J. dan Megawati. 2010. Keragaman Morfologi dan Respon

Perlakauan Pra Perkecambahan Benih Dari Lima Populasi Sawo Kecik (Manilkara kauki (L.) Dubard). Penelitian Hutan Tanaman, 7(2): 67-76.