UNIVERSITAS JEMBER
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
LABORATORIUM TEKNOLOGI
BENIH
LAPORAN PRAKTIKUM
NAMA :
NIM :
GOL/KELOMPOK :
ANGGOTA :
JUDUL ACARA : FAKTOR-FAKTOR
YANG
BERPENGARUH TERHADAP PERKECAMBAHAN BENIH
TANGGAL PRAKTIKUM : 21 MARET 2013
TANGGAL PENYERAHAN : 5 APRIL 2013
ASISTEN : 1. AKHMAD
TAUFIQUL HAFIZH
2. LARAS SEKAR ARUM
3. MANUEL EDISON ANO
4. RAAF LUQMAN SYAH
5. DIYAH AYU SETYORINI
6. NOVITA FRIDA SAFATA
7. OKTAVIA RIZKI SETIYA R.
8. MOCH. GUFRON ARIF R.
9. ALMANSYAH NUR SINATRYA
BAB
1. PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Indonesia merupakan
negara dengan lahan pertanian yang luas, sehingga banyak komoditas pertanian
yang dihasilkan. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk hasil
pertanian tersebut, maka harus menggunakan teknologi-teknologi yang sesuai
sehingga dapat menghasilkan bibit tanaman yang baik. Dengan bibit tanaman yang baik maka tanaman
dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, jika faktor-faktor yang lain
terpenuhi. Untuk memperoleh bibit tanaman yang baik maka benih yang digunakan
dalam proses perkecambahan harus baik.
Perkecambahan adalah
tahap awal perkembangan tumbuhan yang merupakan tumbuhan berbiji. Pada tahap
ini embrio di dalam biji yang semula berada pada kondisi dorman mengalami
sejumlah perubahan fisiologis yang menyebabkan biji tersebut berkembang menjadi
tumbuhan muda. Tumbuhan muda ini dikenal sebagai kecambah. Para ahli fisiologis
benih menyatakan bahwa perkecambahan adalah munculnya radikel menembus kulit
benih. Para agronomis menyatakan bahwa perkecambahan adalah muncul dan
berkembangnya struktur penting embrio dari dalam benih dan menunjukkan
kemampuannya untuk menghasilkan kecambah normal pada kondisi lingkungan yang
optimum.
Perkecambahan adalah
proses awal pertumbuhan embrio dari benih yang dorman, hal tersebut dipengaruhi
oleh banyak faktor termasuk faktor lingkungan. Faktor lingungan yang sangat
berpengaruh terhadap perkecambahan adalah cahaya yang sangat penting dalam
proses perkecambahan. Perkecambahan diawali dengan penyerapan air dari
lingkungan sekitar biji, baik tanah, udara, maupun media lainnya. Perubahan
yang teramati adalah membesarnya ukuran biji yang disebut tahap imbibisi. Biji
menyerap air dari lingkungan sekelilingnya yaitu pada tempat perckecambahannya,
air yang diserap oleh biji berbentuk embun atau uap air. Efek yang terjadi
adalah membesarnya ukuran biji karena sel-sel embrio membesar dan biji melunak.
Melihat pada keberadaan kotiledon atau organ penyimpanan, perkecambahan dapat
dibagi menjadi dua macam, yaitu perkecambahan epigeal dan perkecambahan
hypogeal.
Faktor yang
mempengaruhi perkecambahan dapat berupa faktor internal dan eksternal. Faktor
internal yaitu persediaan cadangan makanan dan kandungan hormon dalam biji,
yang dikontrol oleh genetik tanaman menentukan mudah-tidaknya atau
cepat-lambatnya perkecambahan. Sedangkan faktor eksternal yang berpengaruh
terhadap perkecambahan antara lain temperatur, kelembapan, air, hormon, dan
sinar matahari. Cahaya mempengaruhi perkecambahan dengan tiga cara, yaitu
dengan intensitas (kuantitas) cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan
fotoperiodisitas (panjang hari).
Dalam
praktikum ini digunakan biji pepaya sebagai bahan praktikum karena sebagian
besar papaya diperbanyak dengan pembenihan. Selaian itu buah pepaya mempunyai
banyak biji, pada biji pepaya terdpat membran pembungkus biji yang disebut
dengan aril. Untuk menguji perkecambahan benih pepaya digunakan berbagai
teknik, yaitu salah satunya dengan menghilangkan aril pada biji pepaya. Untuk
mendapatkan benih pepaya yang baik cara memotong buah pepaya yaitu pada pangkal
buah dan pucuk buah, sehingga didaptkan bagian tengah buah yang berisi biji
yang berkualitas.
1.2
Tujuan
Dapat mengetahui dan
mempelajari hambatan perkecambahan benih akibat dormansi fisiologis, serta
dapat mengetahui dan membandingkan beberapa cara pematahan dormansi.
BAB
2. TINJAUAN PUSTAKA
Buah pepaya adalah buah
khas yang ada pada negara-negara tropis, buah ini hanya dapat ditemui pada
daerah tropis dengan curah hujan yang sedang sampai tinggi. Menurut Panggabean
(2009), Fenomena yang menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir adalah adanya
permintaan buah-buahan tropis oleh beberapa negara di dunia yang cenderung
mengalami peningkatan. Agar dapat memenuhi permintaan terhadap buah pepaya maka
harus dilakukan perbanyakan tanaman pepaya, cara memperbanyak tanaman pepaya
salah satunya yaitu dengan mengecambahkan bijinya sehingga dapat menjadi bibit
pepaya yang unggul. Untuk mengecambahkan benih pepaya diperlukan teknik-teknik
yang dapat mempercepat proses
perkecambahannya, oleh karena itu dalam praktikum ini akan dilakukan pengujian
perkecambahan benih pepaya.
Menurut Suyatno Risza
(1994), Pembuahan terjadi setelah adanya proses penyerbukan, bakal buah tumbuh
menjadi buah dan bakal biji tumbuh menjadi biji. Biji inilah yang merupakan
alat perkembangbiakan karena biji mengandung lembaga (calon tumbuh baru). Biji
pada tanaman dapat menjadi lembaga jika biji dapat dikecambahkan sehingga
menjadi bibit tanaman. Dalam pengecambahan benih diperlukan teknik-teknik
khusus agar benih dapat berkecambah dengan normal. Untuk itu dalam praktikum
ini dilakukan pengujian terhadap benih pepaya, agar dapat diketahui cara-cara
yang terbaik untuk mengecambahkan benih pepaya agar berkecambah dengan normal.
Menurut Hasanah (2009),
Struktur tanah merupakan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan
produksi tanaman. Ukuran agregat tanah merupakan salah satu bagian dari
struktur tanah yang sangat menentukan tata air maupun udara tanah. Dalam
pengecambahan benih diperlukan media pengecambahan yang udara dan air dapat tercukupi, sehingga benih dapat
berkecambah dengan normal. Untuk mengecambahkan benih struktur tanah yang
digunakan harus memiliki ruang pori mikro dan ruang pori makro, serta media
yang digunkan harus selalu dalam keadaan lembap.
Perkecambahan pada
benih pepaya dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor dalam dan faktor
luar. Faktor dalam yaitu faktor pengecambahan benih pepaya yang berasal dari
dalam benih seperti adanya hormon-hormon dan enzim-enzim pertumbuhan yang
merangsang untuk benih berkecambah. Faktor luar adalah faktor yang sangat berpengaruh
terhadap perkecambahn benih yang menentukan benih dapat berkecambah atau tidak,
yang termasuk faktor luar yaitu cahaya, suhu, kelembaban, dll. Perkecambahan
benih dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti mutu benih, perlakuan awal
(pematahan dormansi), dan kondisi perkecambahan (air, suhu, media, cahaya) (Schmidt
dalam Sudrajat dan Megawati (2010).
Menurut Harijanto dan
Rakhmania (2008), perkecambahan merupakan salah satu proses saat biji tumbuh
dan berkembang. Agar biji dapat tumbuh dan berkembang maka biji harus
dikecambahkan terlebih dahulu. Agar sel dapat berkecambah maka didalam sel
benih harus terdapat cairan sel. Sel-sel benih mengandung cairan sel dengan
nilai osmosis tertentu, cairan sel didalam sel benih merupakan tempat
enzim-enzim bereaksi termasuk enzim pengecambah. Jadi agar benih dapat
berkecambah maka benih harus dalam keadaan lembap, hal tersebut bertujuan untuk
mengaktifkan enzim-enzim yang ada dalam benih.
BAB
3. METODOLOGI
3.1 Tempat
dan Waktu
Praktikum pembiakan tanama 1 dengan judul acara “Faktor-Faktor
yang Berpengaruh Terhadap Perkecambahan Benih” yang
dilaksanakan pada hari kamis tanggal 21 Maret 2013 pukul 14.00-16.00 WIB, praktikum
dilaksanakan Di Laboratorium Teknologi Benih Fakultas Pertanian Universitas Jember.
3.2 Bahan
dan Alat
3.2.1 Bahan
1. Buah pepaya
yang telah masak
2. Abu dapur
3. Subrat
kertas merang
4. Kapas
gulung
5. Kertas
karbon 3 lembar
3.2.2 Alat
1. Alat
pengecambah
2. Pinset
3. Cawan petri
3.3 Cara
Kerja
1. Mempersiapkan
buah pepaya yang telah matang kemudian mengambil benih dari bagian tengan buah
pepaya (lebih kurang ⅓ bagian).
2. Membuang air
dari benih pepaya dengan abu dapur, kemudian mencuci bersih dan meniriskannya.
3. Membuat perlakuan
terhadap benih pepaya sebagai berikut yaitu:
a. Tidak mengupas
kulit (endotesta) benih.
b. Mengupas sebagian
kulit benih.
c. Mengupas
seluruh kulit benih.
Setelah itu mengering anginkan benih sampai kering atau menjemurnya dengan
sinar matahari selama 1 hari, kemudian mengecambahkan pada kondisi terang dan
gelap.
4. Membuat
media perkecambahan substrat kertas merang dan melapisinya dengan kapas dalam
cawan petri sebanyak enam kombinasi perlakuan dalam dua ulangan.
5. Menanam
benih pepaya sesuai dengan perlakuan dalam substrat yang telah basah dengan
air, menanam pada setiap substrat masing-masing sebanyak 25 butir.
6. Melakukan pengecambahan
benih dengan kondisi gelap dan terang. Untuk kondisi gelap cawan petri ditutup
kertas karbon hitam, sedangkan kondisi terang pertridis tanpa tutup, kemudian
meletakkan masing-masing perlakuan pada alat pengecambahan.
7. Menjaga
kelembapan substrat perkecambahan dengan memberikan air secukupnya.
BAB
4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1
Tabel hasil pengamatan benih pepaya
Perlakuan
|
Ulang-an
|
Perkecambaha
|
||||||
Kulit
benih pepaya
|
Kondisi
perkecam-bahan
|
Hari ke-8
|
Hari ke-14
|
|||||
Normal
|
Abnor-mal
|
Mati
|
Normal
|
Abnor-mal
|
Mati
|
|||
Benih
tidak dikupas
|
Terang
|
1
2
|
-
|
-
|
-
|
0%
|
0%
|
100%
|
Gelap
|
1
2
|
-
|
-
|
-
|
0%
|
0%
|
100%
|
|
Benih
kulitnya dikupas sebagian
|
Terang
|
1
2
|
-
|
-
|
-
|
0%
|
0%
|
100%
|
Gelap
|
1
2
|
-
|
-
|
-
|
10%
|
10%
|
80%
|
|
Kulit
benih seluruhnya dikupas
|
Terang
|
1
2
|
-
|
-
|
-
|
0%
|
0%
|
100%
|
Gelap
|
1
2
|
-
|
-
|
-
|
40%
|
0%
|
60%
|
|
4.1.2 Grafik Perkecambahan Benih Pepaya
a. Perkecambahan Benih Pepaya Yang
Kulitnya Tidak Dikupas
b. Perkecambahan Benih Pepaya Yang
Kulitnya Dikupas Sebagian
c. Perkecambahan Benih Pepaya Yang
Kulitnya Tidak Dikupas
4.2 Pembahasan
Dari hasil
praktikum perkecambahan benih pepaya yang dikecambahkan pada perlakuan kondisi
gelap yaitu membungkus cawan petri dengan kertas karbon didapatkan hasil pada
hari ke-14 yaitu rata-rata benih yang dapat berkecambah 20%, sedangkan pada
kondisi terang atau tidak ditutup dengan kertas karbon hasil yang didapat yaitu
rata-rata benih pepaya yang mati 100%. Jadi dari hasil tersebut terlihat bahwa
faktor cahaya sangat berpengaruh terhadap perkecambahan benih pepaya. Cahaya
dapat menghambat perkecambahan benih pepaya, hal tersebut terlihat pada benih
pepaya yang dikecambahkan dalam konisi terang
maka benih tidak dapat berkecambah 100%.
Pada perlakuan biji pepaya yang
seluruh kulitnya dikupas menunjukkan hasil perkecambahan yang lebih baik jika
dibandingkan dengan benih pepaya yang kulitnya dikupas sebagian dan tidak di
kupas. Pada benih pepaya yang seluruh kulitnya dikupas menghasilkan daya perkecambahan
benih pada hari ke-14 yaitu 40%, sedangkan pada benih pepaya yang sebagian
kulitnya dikupas menghasilkan daya perkecambahan benih 10%. Pada benih pepaya
yang kulitnya tidak dikupas 100% benih tidak dapat berkecambah atau daya
perkecambahannya 0%. Jadi kulit (aril) benih pada pepaya merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi perkecambahan benih pepaya, sehingga dapat
disimpulkan bahwa kulit benih dapat menghambat perkecambahan benih pepaya.
Faktor-faktor
yang dapat mepengaruhi perkecambahan benih pepaya yaitu faktor dari dalam benih
dan faktor dari luar benih. Faktor dari dalam benih yaitu persediaan cadangan
makanan dan kandungan hormon dalam benih pepaya yang menentukan cepat atau
lamabatnya proses perkecambahan. Faktor dari luar yang berpengaruh terhadap
perkecambahan benih pepaya yaitu temperatur udara, kelembapan, air, dan cahaya.
Dalam proses perkecambahan yang paling banyak berpengaruh yaitu faktor cahaya
dan hormon, meskipun faktor yang lain ikut berpengaruh. Perkecambahan pada
benih pepaya dipengaruhi oleh hormon auxin, jika melakukan perkecambahan di
tempat yang gelap maka perkecambahan lebih cepat, hal itu disebabkan karena
hormon auxin sangat peka terhadap cahaya.
Faktor yang dapat menyebabkan biji
papaya tidak berkecambah adalah adanya aril, aril merupakan lapisan kulit biji
papaya yang berupa zat berwarna keputihan lunak dan agak kering. Aril
mengandung protein kasar, serat kasar dan abu yang dapat berpengaruh negatif
terhadap perkecambahan biji, jika aril tidak dibuang maka kulit tersebut
bersifat impermeable terhadap air atau udara padahal air atau udara tersebut
dibutuhkan untuk perkecambahan. Faktor suhu dan cahaya juga mempengaruh
perkecambahan biji papaya pada perlakuan biji yang diletakkan di tempat yang
gelap biji lebih banyak yang terkontaminasi dan dinyatakan abnormal karena biji
terkontaminasi oleh jamur, selain itu pada saat kegiatan praktikum media yang
digunakan yaitu substrat kertas merang kurang terjaga kelembapannya sehingga
perkecambahan tidak dapat tumbuh sesuai dengan fase yang seharusnya terjadi.
Pengaruh cahaya pada proses
perkecambahan sebenarnya bukanlah masalah yang sangat penting karena pada
proses perkecambahan faktor lingkungan yang berpengaruh adalah air, suhu, dan
kadar oksigen. Cahaya hanyalah digunakan untuk menaikkan suhu bila diperlukan
pada saat berkecambah dan kebutuhan tersebut tidak terus-menerus terjadi,
faktor airlah yanh sesungguhnya berpengaruh terhadap perkecambahan benih papaya
karena air berfungsi untuk melunakkan kulit benih, pertukaran gas, mengencerkan
protoplasma, dan mentranslokasikan cadangan makanan. Hasil percobaan terlihat
pada perlakuan kulit yang dikupas sebagian pada tempat terang biji yang tumbuh
berjumlah 2 biji dan pada tempat gelap berjumlah 3 biji, hal ini membuktikan
bahwa seseungguhnya cahaya bukanlah faktor yang begitu penting daripada air.
Dari
hasil praktikum tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan
benih pepaya, perlakuan yang terbaik untuk mengecambahkan benih pepaya yaitu
dengan mengupas seluruh kulit benih kemudian benih dikecambahkan pada kondisi
yang gelap. Perlakuan tersebut merupakan pelakuan yang terbaik karena pada
benih pepaya terdapat kulit benih yang disebut dengan aril, jika aril tidak
dibuang maka dapat menghambat perkecambahan benih pepaya karena aril benih
mengandung protein kasar, serat kasar, dan abu yang berpengaruh negatif
terhadap perkecambahan benih. Dalam keaadaan gelap benih pepaya dapat
berkecambah dengan baik, hal tersebut disebabkan karena benih hormon auksin
tidak dapat bereaksi dengan optimal jika dalam keaadaan terang.
BAB 5.
PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Dari hasil praktikum tentang
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkecambahan benih papaya. Pada
perlakuan dengan benih yang dikecambahkan dalam kondisi gelap dan kulit benih
(aril) yang dikupas menghasilkan perkecambahan noral 40%, sehingga dapat
disimpulkan bahwa keadaan kulit benih (aril) dan cahaya dapat menjadi penentu
proses keberhasilan dalam perkecambahan benih pepaya.
5.2 Saran
Sebaiknya
untuk menjaga benih perawatan media dilakukan agar media tetap lembab dan dapat
menunjang tumbuhnya akar, sehingga presentase kegagalan perkecambahan tidak
terlalu tinggi.
DAFTAR
PUSTAKA
Hariyanto,
Hari dan Nisa Rakhmania. 2008. Memperbanyak
Tanaman Hias
Vaforit. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Hasanah,
Uswah .2009. Respon Tanaman Tomat (Lycopersicum esculentum Mill)
Pada Awal Pertumbuhan Terhada Keragaman Ukuran Agregat Entisol.
Agroland, 16(2): 103 – 109.
Panggabean,
Ellen L. 2009. Kajian Fisiologi dan Kimiawi Deteriosasi Benih
Nangka Pada
Penyimpanan Dengan Polyethilene Glycol. Eksakta
- Biagrotek, 1(1): 12-18.
Risza, Suyatno. 1994. Seri Budidaya Kelapa Sawit. Yogyakarta:
Kanisius.
Sudrajat,
Dede J. dan Megawati. 2010. Keragaman Morfologi dan Respon
Perlakauan Pra Perkecambahan Benih Dari
Lima Populasi Sawo Kecik (Manilkara kauki
(L.) Dubard). Penelitian Hutan Tanaman,
7(2): 67-76.